Ranah Arab : Belajar Dari Dubai

belajar dari

Chichi Knappett



Dubai adalah salah satu anggota Uni Emirat Arab (UAE), persatuan dari tujuh emirat (negara bagian) yang kaya minyak bumi, termasuk diantaranya : Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Ras Al-Khaimah, Sharjah, dan Umm Al-Qaiwain.

Dahulu Dubai adalah daerah yang tandus, terjal, dan penuh gurun gersang. Nggak ada indah-indahnya. Tapi lihatlah Dubai saat ini. Perubahan visi dan misi dalam membangun negara yang mandiri, membuat pandangan dunia tertuju pada negara yang terkenal dengan jargon “Tidak ada yang mustahil di Dubai”. Bahkan air laut bisa diubah menjadi air tawar. Indonesia yang katanya banyak tanah surga, tongkat, kayu dan batu menjadi tanaman, akan ketinggalan jauh, bila tak siap berubah.


Kekayaan Dubai pada awalnya identik dengan minyak bumi. Konon, minyak pertama kali ditemukan tahun 1966. Tapi siapa sangka sumber bahan bakar fosil ini diperkirakan habis pada 2010, jadi hanya dalam waktu 44 tahun !. Maka tak heran bila Dubai telah bersiap untuk memiliki alternatif lain dalam memakmurkan rakyatnya.

Banyak yang menyangsikan bisnis wisata di dubai, karena musim panasnya yang sangat terik, penduduk Islam yang konservatif dan kekurangan kawasan bersejarah. Namun, Dubai tetap yakin resort seluas 46 hektar di atas pulau buatan yang mereka miliki akan menjadi sumber pendapatan ekonomi apabila sumur minyaknya kering.

Lihatlah Dubai sekarang. Ia tak lagi mengandalkan minyak bumi yang hanya ada 2 tahun lagi. Bisnis property dan tourism sekarang menjadi andalan! Salah satunya adalah Hotel Atlantis The Palm.

Adalah pusat hiburan dubai termegah saat ini yang di bangun menelan biaya sebesar Rp 13 triliun. Hotel yang berdiri di atas pulau buatan berbentuk pohon palem ini mirip tempat wisata di Bahamas, merupakan pusat hiburan keluarga dengan tema lautan. Tempat ini memiliki akuarium terbuka dengan 65,000 jenis ikan, termasuk ikan pari dan dan pelbagai kehidupan laut lain, akuarium untuk lumba-lumba yang dibawa dari Kepulauan Solomon.

Cuma sayang seribu kali sayang, hotel ini hanya untuk orang-orang yang kelebihan uang saja alias amat sangat kaya sekali bin tajir - bayangkan saja - suite dengan tiga kamar tidur, tiga kamar mandi lengkap dengan meja makan emas berbentuk daun untuk 18 orang, ditawarkan dengan harga Rp 215 juta satu malam ! Tertarik?

(Ferry Arbania Sumenep, dari berbagai sumber)

Chichi Knappett

Kantong TKW di Luar Negeri

Investasi Sangat Menguntungkan: Dirikan BMT Atau Koperasi di Kantong TKW di Luar Negeri

Kalau ditanya, apakah bisnis yang paling menguntungkan di Arab dan kantong-kantong TKI seperti Hongkong, Malaysia, Jepang, Taiwan atau Korea Misalnya buat orang Indonesia, maka jawabannya mungkin adalah dirikan BMT atau Koperasi yang berfungsi sebagai Simpan Pinjam dan transfer Uang.

Bayangkan, milyaran bahkan trilyunan rupiah dikirim para TKI/W tersebut ke Indonesia, selama ini hanya dinikmati western union dan bank-bank yang pelayanannya sangat menyulitkan. Di western union misalnya, para keluarga yang menerima uang hasil kiriman, masih dipotong (paksa) oleh petugas bank dan kantor pos yang menyalurkannya.

Siapakah yang cocok dengan bisnis ini. Siapa saja dengan kemampun perbankan yang jelas dan mau membangun Indonesia. Khususnya bagi perusahaan travel haji & umrah yang mempunyai minat dengan koperasi, perusahaan syariah atau BMT-BMT Indonesia yang ingin ekspansi ke luar negeri.

Apakah ini bisnis baru??? Tidak sama sekali. Beberapa perusahaan Indonesia telah diam-diam merintisnya. Selain yang sudah eksis seperti western union, moneygram dll. Sepertinya bisnis ini tidak pernah diriset sehingga potensi profit yang luar biasa tidak pernah terekspos. Sebuah perusahaan di bawah Sampurna Group, konglomerat dan penguasa ekonomi Indonesia, telah lama bergerilya di ri Abu Dhabi dengan perwakilan di berbagai negara Arab, kapan giliran anda???

JAKARTA — PT Permodalan BMT berencana melakukan ekspansi pengembangan bisnis keuangan mikro syariah di Hong Kong. Perusahaan ini akan membuka kantor perwakilan di negara tersebut dan menargetkan konsumen tenaga kerja Indonesia di negara itu.

Rencananya, tim beranggotakan lima orang akan berangkat pada Jumat, hari ini. Selama 10 hari di negara tersebut, tim ini akan melakukan pengkajian berbagai kemungkinan pemberian layanan keuangan mikro syariah.


sang penari

sang penari by 21win 远离.
the dancer in the middle of kecak dancers.
the obor (oil lamp) light help me a lot to create this "look like a painting" shot :)

Semalam di Gerbang Matahari

ferry.arbania@gmail.com

Ferry Arbania

Ferry Arbania
foto chici sahabat hatiku di Abu Dhabi : "Kemesaraan yang takkan pernah berlalu"

Bab Al Shams Desert Resort & Spa ("Gerbang Matahari" dalam bahasa Arab) terletak di tengah gurun pasir, kurang lebih satu jam perjalanan yang lumayan menegangkan dari Dubai. Gimana nggak menegangkan, walaupun penerangan sepanjang jalan sangat baik, namun sejauh mata memandang, di kiri-kanan yang tampak hanya hamparan padang pasir gelap yang mencekam tanpa tanda-tanda kehidupan (tapi tanpa aroma bunga melati ya). Untungnya (atau justru sialnya?), suasana padang pasir ini akan berubah 180 derajat begitu Dubailand, kompleks pusat hiburan terbesar di Timur Tengah (mungkin malah di dunia) dibuka beberapa tahun lagi di dekat area ini.


Walaupun jumlah kamarnya cuma sekitar 100, kompleks hotel ini lumayan luas dan terdiri dari beberapa bangunan low-rise dua lantai yang terhubung satu sama lain dan dikelilingi taman yang cukup asri dan hijau (untuk ukuran daerah gurun pasir, maksudnya!) Bangunan-bangunan itu dibangun ala gaya arsitektur lokal Dubai. Yang pasti bukan arsitektur gedung-gedung pencakar langit Dubai yang nyeleneh, tapi arsitektur rumah-rumah lokal Dubai sebelum demam minyak; persegi dan sederhana dengan warna-warna tanah dan ornamen bermotif tumbuhan. Warna-warna tanah dan kayu yang alami dan sejuk juga mendominasi desain interior kamar yang cenderung sederhana, pokoknya kontras banget deh dengan desain hotel-hotel mewah lainnya kayak Burj Al Arab atau Emirates Palace di Abu Dhabi yang didominasi warna merah, emas, dan bling bling.











Suasana khas Arab nggak cuma kelihatan dari desain bangunan dan interior kamar, tapi juga dari aktifitas-aktifitas yang tersedia di resor ini. Contohnya kita bisa nyoba “nikmatnya” naik unta di hamparan pasir sekitar hotel di sore hari dilanjutkan pertunjukan falcon show atau teknik berburu tradisional suku Arab Beduin dengan menggunakan elang. Not for me! G sendiri lebih prefer leyeh-leyeh sipping cocktail di infitinity pool dengan pemandangan lepas ke arah gurun (dan orang naik unta, hahaha) Hmmm, la vie est belle… Tentu saja tidak disarankan untuk mereka yang lahir pada hari Selasa Kliwon (dan tidak cocok hidup di air, hehehe).

Nah, salah satu daya tarik utama resor ini adalah open-air restaurant-nya yang dinamakan Al Hadheerah. Di restoran ini kita dapat menikmati hidangan prasmanan bernuansa Arab, dengan live entertainment seperti Arabic live music dan berbagai tarian Arab. Buat sebagian besar tamu, obviously tari perut (belly dance) yang ditampilkan oleh seorang wanita muda bertubuh montoklah (duh… ngiler…) yang paling ditunggu-tunggu. Oh ya, Uni Emirat Arab (termasuk Dubai) memang negara Islam, tapi tari perut yang erotis justru tidak dilarang, malahan dipromosikan sebagai daya tarik wisata. Padahal kostum penari-penarinya bisa bikin mimisan lho soalnya cuma sepasang bikini dan rok berjumbai, yang pasti jauh lebih “mengundang” daripada goyang Inul maupun Dewi Persik. Oh ya, saat ini banyak juga lho penari perut yang berasal dari luar Timur Tengah, khususnya Eropa Timur dan negara-negara pecahan CIS (Uni Soviet).

Karena sudah beberapa kali menonton pertunjukan tari perut, buat g justru tari Tanoura-lah yang paling interesting. Tarian mirip gasing ini ngingetin g sama tari Darwis (Swirling Dervish) dari Turki. Bedanya, kalau tari Darwis bernuansa spiritual dengan kostum sederhana dan lagu-lagu religius sufistik, tari Tanoura yang konon berasal dari Mesir ini adalah tari hiburan dengan kostum berlapis-lapis berwarna seronok dengan iringan lagu-lagu populer. Sambil terus-menerus berputar, penari Tanoura juga bermain-main dengan kostumnya yang meriah, menghasilkan kombinasi gerak, warna, dan bentuk yang sangat memukau. Hebatnya lagi, di penghujung acara, sang penari dengan terampil mengubah lapisan-lapisan kostumnya menyerupai bentuk boneka bayi tanpa berhenti berputar!!



Selain pertunjukan tari-tarian, ada juga horse & camel caravan show atau iring-iringan kuda dan unta musafir yang menyusuri bukit pasir (sand dunes) di balik restoran ini. Lighting system yang sangat mendukung menjadikan iring-iringan kafilah ini latar belakang yang bernuansa eksotis sekaligus sedikit misterius sambil bagi suasana makan malam Anda (wuahaha, iklan banget ya).

Nah, hidangannya sendiri merupakan perpaduan masakan berbagai daerah di kawasan Timur Tengah. Bukan cuma Lebanon dan sekitarnya, yang memang paling populer di kawasan ini, saja yang tersedia. Namun masakan khas lokal/Emirati yang justru jarang banget dijumpai di Dubai juga tersedia. Dari segi kualitas dan variasi pilihan, restoran ini dipuja-puji oleh temen2 g yang Arab, walaupun justru nggak begitu cocok dengan selera g sendiri. Soalnya, masakan Arab kan didominasi daging dan lemak/minyak dengan sangat sedikit (bahkan tanpa) sayuran, mana sweets dan kue-kuenya manis banget lagi untuk lidah orang Indonesia (kata orang Sundah mah, “giung”). Oh ya, buat mereka yang hobi banget naik unta (ada gitu?), bisa juga lho naik unta lagi di restoran ini sementara yang nggak hobi (baca: orang normal) bisa ditato lengannya di konter henna painting.

Gendang gendut, tali kecapi. Kenyang perut, senang hati. Sebelum tidur, mampir dulu dong ke Al Sarab Rooftop Lounge untuk post-dinner drinks atau shisha sambil menikmati pemandangan lepas ke hamparan pasir dan pohon palem di kegelapan malam. Jika sempat menyaksikan matahari tenggelam di sini, kita bakal menyadari bahwa sunset di tengah gurun pasir pun tidak kalah indahnya lho dengan di tepi pantai. Kalau perlu, nongkrong dari pagi sampe tutup karena siapa tahu bisa bisa ketemu Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, raja Dubai yang konon katanya merupakan regular guest di lounge ini (syukur-syukur diangkat mantu, hehe).












Untuk menikmati semua ini memang nggak murah (it’s Dubai, Habib!), tapi kalo tahan panas kayak tupperware, boleh coba menginap di musim panas (Juni – September). Pertama, seperti hotel-hotel lain di Dubai, tarif kamar diobral habis-habisan, hingga sekitar 30% dari published rate yang biasanya berlaku di musim dingin (Oktober – Februari). Keuntungan lain, karena hotel-hotel biasanya low occupancy di musim panas, kita bisa menikmati fasilitas-fasilitas hotel dengan nyaman, kayak di rumah sendiri deh (tapi tetep bayar lho).

Don’t worry about getting a heatstroke. Suhu udara memang 43 – 45 derajat Celcius di siang hari, tapi di malam hari udara justru cenderung sejuk, bahkan lebih sejuk daripada di pusat kota. Ini tentu tak lepas dari karakter daerah gurun yang perbedaan suhu siang dan malamnya memang ekstrim.



Chichi Knappett

ferry.arbania@gmail.com

Foto saya
JuRnAlIs yAnG SuKa NuLiS pUiSi

Kamis, 25 Juni 2009

PEREMPUAN DAN KEMISKINAN

Masyarakat sering mengabaikan jamaknya hubungan antara perempuan dan kemiskinan. perempuan juga sering dianggap tidak perlu mandiri secara ekonomi. Konsep laki-laki sebagai pencari nafkah utama dalam hubungan kemasyarakatan telah menjadi sebuah dogma. Kajian ini mempertanyakan fenomena-fenomena di atas dengan menggunakan feminisme sebagai alat bantu analisisnya

PEREMPUAN DAN KEMISKINAN

Rinie Handayani
Staf Pengajar Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Jakarta

“Social functions should not be based on sex difference”
-Marry Wollstonecraft-

Abstrak
Masyarakat sering mengabaikan jamaknya hubungan antara perempuan dan kemiskinan. perempuan juga sering dianggap tidak perlu mandiri secara ekonomi. Konsep laki-laki sebagai pencari nafkah utama dalam hubungan kemasyarakatan telah menjadi sebuah dogma. Kajian ini mempertanyakan fenomena-fenomena di atas dengan menggunakan feminisme sebagai alat bantu analisisnya.

Kata kunci: perempuan, kemiskinan, feminisme

Abstract
The association between women and poverty has been frequently going unnoticed by society. Women are often considered to be unnecessarily self-financed. The idea of men as breadwinners has been accepted as a dogmatic concept. This writing is expected to question such notion by adopting feminist point of view.

Key words: women, poverty, feminist

Memahami Konsep Kemiskinan
Sebagaimana dikemukakan oleh Nickie Charles (2000:125), dalam kajian ilmu feminisme terdapat dua cara dalam memahami makna kemiskinan. Konsep yang pertama memahami kemiskinan sebagai keterbatasan kemampuan untuk memiliki sumber daya material, akibat adanya perbedaan ras, jenis kelamin, dan kelas sosial dalam masyarakat. Konsep yang kedua melihat kemiskinan sebagai ketidakmampuan untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat.
Apabila ditelaah lebih lanjut, kedua konsep di atas saling berkait erat. Seseorang yang dikategorikan masuk dalam kelompok miskin karena ketidakmampuannya dalam memiliki sumber daya materi yang cukup untuk bertahan hidup, tidak mampu berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat tempat dia tinggal. Hal ini disebabkan oleh prioritas individu tersebut untuk bertahan hidup, bukan mengekspresikan diri. Selain itu, jika seseorang tidak memiliki kekuatan ekonomi, akses menuju partisipasi publik untuk mendapat kekuatan sebagai anggota atau bagian dari publik pun tidak dapat diraih.

Penyebab Keterkaitan Perempuan dan Kemiskinan
Wacana dominan yang menyatakan bahwa perempuan bukanlah pencari nafkah dalam sebuah keluarga, atau perempuan tidak perlu mandiri secara ekonomi, telah menjadi penyebab utama keterkaitan perempuan dan kemiskinan. Pola pikir seperti ini begitu kuat mengakar sehingga hadir dalam banyak sisi kehidupan. Salah satu contoh yang tepat adalah dunia pendidikan. Pendidikan telah menjadi bagian dari upaya memelihara wacana ketidakmandirian perempuan secara ekonomi.
Materi pendidikan seringkali menjadi alat untuk menanamkan paham bahwa perempuan tidak perlu mandiri secara ekonomi. Terlalu banyak buku pelajaran, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga menengah ke atas yang menampilkan segregasi peran sosial berdasarkan jenis kelamin. Perempuan seringkali dihadirkan dalam wilayah domestik dan perawatan anak saja, jarang dalam dunia kerja (yang menghasilkan uang), apalagi keduanya. Laki-lakinya dihadirkan sebagai sosok yang hadir dan berkecimpung dalam dunia kerja, tidak terlibat dalam urusan domestik dan pengasuhan anak-anak. Pada akhirnya pola pembagian tugas sosial yang seperti itu biasanya berakhir pada wacana laki-laki saja sebagai pihak yang diharuskan mandiri secara ekonomi. Akibatnya, perempuan menjadi tergantung secara finansial pada laki-laki. Sayangnya, masalah ini lebih sering luput dari perhatian masyarakat.
Materi pendidikan yang mendukung ketakmandirian perempuan secara ekonomi telah secara luas dianggap bukan merupakan masalah yang berarti. Materi pelajaran tersebut malah dianggap sebagai sebuah hal yang jamak dan kodrati. Hal ini juga menghambat kemandirian perempuan. Orang tua yang telah terbiasa dengan rezim materi pelajaran yang seperti itu biasanya akan mengadopsi pola pikir tersebut sebagai sebuah kebenaran. Proses internalisasi makna ke dalam benak dan pola pikir orang tua dapat terjadi tanpa disadari. Akibatnya, terlalu banyak orang tua yang tidak memberi dukungan dan perhatian yang penuh kepada anak-anak perempuan dalam hal pendidikan. Banyak anak perempuan, terutama di daerah pedesaan, yang tidak mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Banyak juga anak perempuan yang akhirnya mengambil pendidikan ‘sekenanya’ saja tanpa memikirkan potensi yang terbaik untuk masa depannya. Anak perempuan dianggap tidak begitu penting mandiri secara finansial. Mereka lebih sering dianggap akan di ‘ambil’ oleh suami dan hidup mereka menjadi tanggungan para suami.
Maria Mies (1986:206) bahkan lebih lanjut mengemukakan bahwa pendidikan sebenarnya merupakan upaya untuk mempersiapkan remaja putri dalam perannya sebagai ibu dan istri di masa datang. Pendapatnya tersebut masih sangat relevan dengan keadaan saat ini ketika para remaja putri sekolah menengah ‘mengikuti’ mata kuliah keterampilan yang biasanya dalam bentuk kegiatan memasak dan menjahit, tidak bebas mengikuti kegiatan keterampilan lainnya yang dikerjakan oleh murid laki-laki. Murid-murid taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang diajari membaca “ibu memasak di dapur dan ayah pergi bekerja”. Sekolah pada tahap tertentu telah melegitimasi segregasi peran sosial berdasarkan jenis kelamin.

Wacana dominan yang mendukung ketidakmandirian perempuan secara ekonomi semakin dalam tertanam di benak sebagian besar masyarakat akibat tayangan media massa yang mendukung konstruksi tersebut. Media massa, baik media cetak maupun elektronik, telah menghadirkan beragam program yang lebih sering mendudukan perempuan dalam ranah domestik dan pengasuhan anak. Kalaupun ada program atau tulisan yang menampilkan kisah tentang seorang perempuan yang dipandang sukses, maka format program tersebut biasanya menyertakan informasi mengenai keluarganya (suami dan anak-anak). Dengan dihadirkannya keluarga dalam program atau tulisan, perempuan tidak dapat dipandang sebagai seorang individu mandiri, yang meraih kesuksesannya lewat perjuangan dan kemampuannya. Dalam wacana yang tidak mendukung kemadirian tersebut ini, kesuksesan perempuan masih diukur dari keberhasilannya mengurus suami dan anak-anaknya. Kerancakan bahasa dalam kemasan berita membuat pembaca sering tidak menyadari proses induksi wacana ketakmandirian perempuan sedang berlangsung.

Perlunya Kemandirian Perempuan secara Ekonomi
Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup untuk menikah. Persoalannya adalah bagaimana perempuan harus mampu secara finansial walaupun mereka telah menikah. Hal ini didasarkan pada asumsi logis bahwa mungkin saja seorang perempuan yang telah menikah akan menghadapi kenyataan bahwa pada suatu saat dia harus mampu menghidupi dirinya sendiri, atau membantu menafkahi keluarga. Kematian suami, perceraian, tingginya biaya hidup dan pendidikan, serta pemutusan hubungan kerja yang terjadi pada suami atau suami jatuh sakit adalah contoh-contoh hal-hal yang mungkin saja menimpa seorang perempuan yang telah menikah. Kemandirian perempuan secara finansial akan sangat berguna dalam menghadapi kejadian-kejadian semacam itu.
Ketidakmandirian perempuan dalam sebuah ikatan pernikahan juga memicu kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan yang terjadi dapat dalam bentuk kekerasan ekonomi, psikis hingga fisik. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat pihak yang menghasilkan uang, dalam kasus ini suami, adalah pihak yang memiliki kekuasaan yang lebih dibanding pihak yang tidak menghasilkan uang (istri). Kekuasaan yang lebih dapat digunakan untuk membatasi ruang gerak perempuan, mulai dari jenis pekerjaan domestik apa yang harus dilakukannya hingga jumlah anak. Kekuasaan tidak berimbang membuat istri menjadi sangat tergantung sehingga seringkali istri dalam kelompok ini tidak mampu berbuat banyak dalam menghadapi, misalnya kekerasan fisik yang dilakukan suaminya.
Salah satu perjuangan kelompok feminis adalah adanya sistem pengupahan untuk para istri atas pekerjaan domestik yang telah mereka lakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Jane Freedman (2001:51--52), pekerjaan domestik dan mengurus anak yang tidak dibayar dianggap sebagai produk sistem patriarki dan produksi kapitalis, yang memberi kekuasaan pada laki-laki atas perempuan(istri) melalui pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Namun, konsep pengupahan semacam ini masih menghadapi dilema. Di satu sisi usul ini disambut baik mengingat perkejaan rumah tangga sama beratnya dengan pekerjaan lain dan memerlukan keterampilan juga. Sudah sepatutnya dihargai dan diakui sebagai sebuah profesi. Di sisi lain konsep pengupahan atas pekerjaan domestik yang dilakukan para istri akan mempertegas segregasi wilayah kerja sosial berdasarkan jenis kelamin.

Perempuan pun perlu mandiri secara ekonomi agar tidak menjadi subjek sekaligus objek konsumsi. Selain mengungkapkan hubungan antara pendidikan dan masa depan remaja perempuan sebagai ibu dan istri, Maria Mies (1986:207) juga mengangkat hubungan antara ketidakmandirian perempuan dalam hal keuangan dengan konsumsi domestik. Menurutnya, perempuan kelas menengah memiliki ‘keistimewaan’, yaitu terdomestikasi, terkucil, bergantung pada laki-laki, dibuat lemah secara emosi, dan terikat pada seluruh ideologi yang memberatkan mereka. Seluruh ‘keistimewaan’ ini ditambah dengan kenyataan bahwa mereka, sebagai istri, mau tidak mau menggunakan uang yang diberikan oleh suaminya. Akhirnya, mereka menjadi pelaku utama konsumsi domestik, menjadi sasaran empuk para agen kapitalis nasional dan internasional. Kelompok perempuan seperti inilah yang terus- menerus dijadikan sasaran utama dalam pemasaran, dan sering dijadikan ikon utama dalam periklanan. Tampilan kelompok perempuan seperti ini seringkali menipu. Di balik keceriaan wajah para perempuan tersebut, kebrutalan konsumerisme telah terjadi terhadap mereka.
Kemandirian secara ekonomi memerlukan sistem pengupahan yang adil antara pekerja perempuan dan pekerja laki-laki. Selain mengungkapkan tentang perjuangan kelompok feminis mengenai pengupahan atas pekerjaan domestik yang dilakukan para istri, Jane Freedman (2001:47--48) juga mengangkat masalah upah pekerja perempuan yang biasanya lebih rendah dibanding pekerja laki-laki. Menurutnya pertanyaan tentang mengapa pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan mengapa gaji pekerja perempuan lebih rendah dibanding pekerja laki-laki memiliki jawaban yang saling terkait. Pekerja perempuan dibayar lebih rendah dibanding pekerja laki-laki karena adanya pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Perempuan sering ditempatkan dalam wilayah kerja domestik, sedangkan pria pada wilayah kerja di luar rumah. Akibatnya, banyak perempuan yang menemui kesulitan dalam mengejar karier karena tidak dihargai kemampuannya. Perempuan juga sering menghadapi pelecehan seksual di tempat kerjanya, terutama di wilayah kerja yang didominasi laki-laki, karena tidak memiliki kekuasaan untuk melawan.
Di samping itu, perempuan mendapatkan kesulitan dalam menentukan jenis pekerjaan. Selain karena pendidikan yang tidak memadai (akibat berkuasanya wacana perempuan tidak memerlukan pendidikan yang bagus), perempuan terjebak dalam paradigma ketergantungan finansial pada laki-laki. Sebagai akibatnya, ketika mau dan harus bekerja, perempuan tidak memiliki banyak pilihan lapangan pekerjaan. Banyaknya Pekerja Rumah Tangga (PRT) perempuan adalah salah satu contohnya. Ironisnya pekerjaan semacam ini sering dianggap pekerjaan yang gampang, bukan sebuah profesi sehingga biasanya tidak dibayar mahal, bahkan tidak memenuhi Upah Minimum Regional (UMR). Padahal dalam kenyataannya mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan merawat anak memerlukan keahlian yang memadai. Selain itu, PRT rentan terhadap tindak kekerasan pula akibat tidak adanya pilihan bagi mereka untuk melawan. Hal yang paling disayangkan adalah masyarakat sudah terlanjur mengidentikan PRT sebagai pekerjaan untuk perempuan yang tidak bergengsi dan bergaji rendah walaupun akhir-akhir ini terdapat program di sebuah stasiun televisi swasta mengenai perburuan mencari PRT untuk seorang artis ibu kota. Selain profesi sebagai PRT, buruh pabrik adalah pilihan lain para perempuan yang termasuk dalam kelompok istri kelompok sosial menengah yang secara finansial tergantung pada suami. Profesi ini pun memiliki banyak risiko. Selain kekerasan dan pelecehan, para pekerja perempuan juga rentan terhadap pemutusan hubungan kerja yang sepihak. Hal ini ditunjang kenyataan bahwa kelompok perempuan yang dapat mengisi posisi buruh pabrik rendahan ini banyak sekali tersedia sehingga pihak manajemen pabrik dapat dengan leluasa mengganti mereka. Pertimbangannya adalah mereka perempuan kelas menengah yang bergantung pada suaminya dalam mencari nafkah.

Simpulan
Dengan memepertimbangkan penjelasan di atas, perempuan memang sangat rentan terjebak dalam kemiskinan, baik secara materi (ekonomi) maupun secara partisipasi publik. Sangat disayangkan kenyataan ini sering diabaikan dalam masyarakat karena dianggap sebagai sebuah hal yang jamak dan benar. Tidak gampang untuk memutus mata rantai keterkaitan perempuan dan kemiskinan. Jika Maria Mies menyerukan gerakan feminisme yang lebih mengakomodasi kebutuhan perempuan kelas menengah, di lain pihak feminsme dipandang sebagai sebuah proses yang tidak akan berhenti.


DAFTAR PUSTAKA
Charles, Nickie. Feminism, The State and Social Policy. Bassingstoke: Macmillan. 2000
Freedman, Jane. Feminism. Buckingham: Open University Press. 2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Love,Sex & Life

Gambar

Jakarta Efek negatif dari kebiasaan merokok telah banyak menjadi pembicaraan. Namun tahukah Anda, bahwa efek itu lebih berbahaya bagi perempuan?

Bagi perempuan, risiko terkena serangan jantung karena kebiasaan merokok lebih besar dari laki-laki. Hal ini dibuktikan oleh peneliti asal Norwegia. data ini diambil dari 1.784 pasien jantung di rumah sakit Norwegia.

Dikutip detikhot dari health24, Senin (8/9/2008), dalam penelitian itu dibuktikan bahwa perempuan yang merokok biasanya berisiko mengalami serangan jantung 14 tahun lebih cepat dari perempuan yang tidak merokok.

Berbeda dengan perempuan, laki-laki yang merokok memiliki risiko 8 tahun lebih cepat mengalami serangan jantung dibanding laki-laki yang tidak merokok.

Tak hanya itu, perempuan yang merokok juga mengalami beberapa kerugian lain, seperti mengalami menopause lebih cepat, dan sejumlah kerugian lainnya. Walaupun begitu, baik laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki risiko dan kerugian karena kebiasaan merokoknya.

Jadi tunggu apa lagi? Matikan rokok Anda sekarang!
(kee/yla)

Blogger Tidak Hadir di Sidang Prita Mulyasari

Didi
Sinyal Kuat Indosat

cermin "luka" perempuan

Kerja di Saudi dengan Visa Bebas

Orang Saudi sudah lama menikmati lezatnya hak untuk mengeluarkan visa bebas. Visa bebas ini dapat dibuat atas permintaan secara perorangan oleh warga Saudi, yang sebenarnya adalah hak untuk mengadakan PRT maupun Sopir keluarga. Namun, pada prakteknya, hak visa bebas ini dimanfaatkan untuk diperjualbelikan. Alhasil, kini banyak agen ilegal di bidang jual-beli visa bebas, dan ini telah lazim di Jeddah.


Banyak orang Indonesia membeli visa bebas ini. Untuk visa yang ditujukan untuk seorang laki-laki, harga berkisar 7000 - 8000 Riyal, sedangkan untuk perempuan berkisar 6000 Riyal. (Anggaplah 1 SR = 2450 rupiah). Belum lagi, untuk visa bebas, setiap tahun harus harus menyetor pada kafil / majikan tempat membeli visa ini sekitar 1000 - 2000 SR, tergantung permintaan majikan. Selain itu untuk perpanjangan Iqamah (KTP Saudi) biasanya majikan menarik uang hingga 2000 SR (tiap dua tahunnya). Padahal, untuk harga iqamah dengan kurun waktu dua tahun adalah 1000 SR. Sisanya masuk kantong majikan maupun agen ilegal sebagai "ongkos lelah".

Menggunakan visa bebas menurut pengalaman seseorang eks sopir Jeddah, adalah lebih fleksibel dan punya posisi tawar yang lebih tinggi ketimbang sopir resmi perumahan. "Kita dapat paling tidak 1500 SR sebulan. Sopir biasa paling 1000SR plus makan 200 SR. Selain itu, saya juga bisa ngeyel kalo majikan nyuruh-nyuruh diluar jam yang ditentukan." Kata eks - sopir ini.

Arsip Blog

Jadilah Bagian Dari Kehidupan Perempuan