Ranah Arab : Belajar Dari Dubai
belajar dari Chichi Knappett |
Dubai adalah salah satu anggota Uni Emirat Arab (UAE), persatuan dari tujuh emirat (negara bagian) yang kaya minyak bumi, termasuk diantaranya : Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Ras Al-Khaimah, Sharjah, dan Umm Al-Qaiwain.Dahulu Dubai adalah daerah yang tandus, terjal, dan penuh gurun gersang. Nggak ada indah-indahnya. Tapi lihatlah Dubai saat ini. Perubahan visi dan misi dalam membangun negara yang mandiri, membuat pandangan dunia tertuju pada negara yang terkenal dengan jargon “Tidak ada yang mustahil di Dubai”. Bahkan air laut bisa diubah menjadi air tawar. Indonesia yang katanya banyak tanah surga, tongkat, kayu dan batu menjadi tanaman, akan ketinggalan jauh, bila tak siap berubah.
Kekayaan Dubai pada awalnya identik dengan minyak bumi. Konon, minyak pertama kali ditemukan tahun 1966. Tapi siapa sangka sumber bahan bakar fosil ini diperkirakan habis pada 2010, jadi hanya dalam waktu 44 tahun !. Maka tak heran bila Dubai telah bersiap untuk memiliki alternatif lain dalam memakmurkan rakyatnya.Banyak yang menyangsikan bisnis wisata di dubai, karena musim panasnya yang sangat terik, penduduk Islam yang konservatif dan kekurangan kawasan bersejarah. Namun, Dubai tetap yakin resort seluas 46 hektar di atas pulau buatan yang mereka miliki akan menjadi sumber pendapatan ekonomi apabila sumur minyaknya kering.

Lihatlah Dubai sekarang. Ia tak lagi mengandalkan minyak bumi yang hanya ada 2 tahun lagi. Bisnis property dan tourism sekarang menjadi andalan! Salah satunya adalah Hotel Atlantis The Palm.
Adalah pusat hiburan dubai termegah saat ini yang di bangun menelan biaya sebesar Rp 13 triliun. Hotel yang berdiri di atas pulau buatan berbentuk pohon palem ini mirip tempat wisata di Bahamas, merupakan pusat hiburan keluarga dengan tema lautan. Tempat ini memiliki akuarium terbuka dengan 65,000 jenis ikan, termasuk ikan pari dan dan pelbagai kehidupan laut lain, akuarium untuk lumba-lumba yang dibawa dari Kepulauan Solomon.Cuma sayang seribu kali sayang, hotel ini hanya untuk orang-orang yang kelebihan uang saja alias amat sangat kaya sekali bin tajir - bayangkan saja - suite dengan tiga kamar tidur, tiga kamar mandi lengkap dengan meja makan emas berbentuk daun untuk 18 orang, ditawarkan dengan harga Rp 215 juta satu malam ! Tertarik?
(Ferry Arbania Sumenep, dari berbagai sumber)


Kantong TKW di Luar Negeri
Investasi Sangat Menguntungkan: Dirikan BMT Atau Koperasi di Kantong TKW di Luar Negeri
Kalau ditanya, apakah bisnis yang paling menguntungkan di Arab dan kantong-kantong TKI seperti Hongkong, Malaysia, Jepang, Taiwan atau Korea Misalnya buat orang Indonesia, maka jawabannya mungkin adalah dirikan BMT atau Koperasi yang berfungsi sebagai Simpan Pinjam dan transfer Uang.
Bayangkan, milyaran bahkan trilyunan rupiah dikirim para TKI/W tersebut ke Indonesia, selama ini hanya dinikmati western union dan bank-bank yang pelayanannya sangat menyulitkan. Di western union misalnya, para keluarga yang menerima uang hasil kiriman, masih dipotong (paksa) oleh petugas bank dan kantor pos yang menyalurkannya.
Siapakah yang cocok dengan bisnis ini. Siapa saja dengan kemampun perbankan yang jelas dan mau membangun Indonesia. Khususnya bagi perusahaan travel haji & umrah yang mempunyai minat dengan koperasi, perusahaan syariah atau BMT-BMT Indonesia yang ingin ekspansi ke luar negeri.
Apakah ini bisnis baru??? Tidak sama sekali. Beberapa perusahaan Indonesia telah diam-diam merintisnya. Selain yang sudah eksis seperti western union, moneygram dll. Sepertinya bisnis ini tidak pernah diriset sehingga potensi profit yang luar biasa tidak pernah terekspos. Sebuah perusahaan di bawah Sampurna Group, konglomerat dan penguasa ekonomi Indonesia, telah lama bergerilya di ri Abu Dhabi dengan perwakilan di berbagai negara Arab, kapan giliran anda???
JAKARTA — PT Permodalan BMT berencana melakukan ekspansi pengembangan bisnis keuangan mikro syariah di Hong Kong. Perusahaan ini akan membuka kantor perwakilan di negara tersebut dan menargetkan konsumen tenaga kerja Indonesia di negara itu.
Rencananya, tim beranggotakan lima orang akan berangkat pada Jumat, hari ini. Selama 10 hari di negara tersebut, tim ini akan melakukan pengkajian berbagai kemungkinan pemberian layanan keuangan mikro syariah.
sang penari


the obor (oil lamp) light help me a lot to create this "look like a painting" shot :)
Semalam di Gerbang Matahari
Klik pada wajah orang pada foto untuk memberi mereka tag. |
Ferry Arbania


foto chici sahabat hatiku di Abu Dhabi : "Kemesaraan yang takkan pernah berlalu"Bab Al Shams Desert Resort & Spa ("Gerbang Matahari" dalam bahasa Arab) terletak di tengah gurun pasir, kurang lebih satu jam perjalanan yang lumayan menegangkan dari Dubai. Gimana nggak menegangkan, walaupun penerangan sepanjang jalan sangat baik, namun sejauh mata memandang, di kiri-kanan yang tampak hanya hamparan padang pasir gelap yang mencekam tanpa tanda-tanda kehidupan (tapi tanpa aroma bunga melati ya). Untungnya (atau justru sialnya?), suasana padang pasir ini akan berubah 180 derajat begitu Dubailand, kompleks pusat hiburan terbesar di Timur Tengah (mungkin malah di dunia) dibuka beberapa tahun lagi di dekat area ini.
Walaupun jumlah kamarnya cuma sekitar 100, kompleks hotel ini lumayan luas dan terdiri dari beberapa bangunan low-rise dua lantai yang terhubung satu sama lain dan dikelilingi taman yang cukup asri dan hijau (untuk ukuran daerah gurun pasir, maksudnya!) Bangunan-bangunan itu dibangun ala gaya arsitektur lokal Dubai. Yang pasti bukan arsitektur gedung-gedung pencakar langit Dubai yang nyeleneh, tapi arsitektur rumah-rumah lokal Dubai sebelum demam minyak; persegi dan sederhana dengan warna-warna tanah dan ornamen bermotif tumbuhan. Warna-warna tanah dan kayu yang alami dan sejuk juga mendominasi desain interior kamar yang cenderung sederhana, pokoknya kontras banget deh dengan desain hotel-hotel mewah lainnya kayak Burj Al Arab atau Emirates Palace di Abu Dhabi yang didominasi warna merah, emas, dan bling bling.
Nah, salah satu daya tarik utama resor ini adalah open-air restaurant-nya yang dinamakan Al Hadheerah. Di restoran ini kita dapat menikmati hidangan prasmanan bernuansa Arab, dengan live entertainment seperti Arabic live music dan berbagai tarian Arab. Buat sebagian besar tamu, obviously tari perut (belly dance) yang ditampilkan oleh seorang wanita muda bertubuh montoklah (duh… ngiler…) yang paling ditunggu-tunggu. Oh ya, Uni Emirat Arab (termasuk Dubai) memang negara Islam, tapi tari perut yang erotis justru tidak dilarang, malahan dipromosikan sebagai daya tarik wisata. Padahal kostum penari-penarinya bisa bikin mimisan lho soalnya cuma sepasang bikini dan rok berjumbai, yang pasti jauh lebih “mengundang” daripada goyang Inul maupun Dewi Persik. Oh ya, saat ini banyak juga lho penari perut yang berasal dari luar Timur Tengah, khususnya Eropa Timur dan negara-negara pecahan CIS (Uni Soviet).
Nah, hidangannya sendiri merupakan perpaduan masakan berbagai daerah di kawasan Timur Tengah. Bukan cuma Lebanon dan sekitarnya, yang memang paling populer di kawasan ini, saja yang tersedia. Namun masakan khas lokal/Emirati yang justru jarang banget dijumpai di Dubai juga tersedia. Dari segi kualitas dan variasi pilihan, restoran ini dipuja-puji oleh temen2 g yang Arab, walaupun justru nggak begitu cocok dengan selera g sendiri. Soalnya, masakan Arab kan didominasi daging dan lemak/minyak dengan sangat sedikit (bahkan tanpa) sayuran, mana sweets dan kue-kuenya manis banget lagi untuk lidah orang Indonesia (kata orang Sundah mah, “giung”). Oh ya, buat mereka yang hobi banget naik unta (ada gitu?), bisa juga lho naik unta lagi di restoran ini sementara yang nggak hobi (baca: orang normal) bisa ditato lengannya di konter henna painting.
Gendang gendut, tali kecapi. Kenyang perut, senang hati. Sebelum tidur, mampir dulu dong ke Al Sarab Rooftop Lounge untuk post-dinner drinks atau shisha sambil menikmati pemandangan lepas ke hamparan pasir dan pohon palem di kegelapan malam. Jika sempat menyaksikan matahari tenggelam di sini, kita bakal menyadari bahwa sunset di tengah gurun pasir pun tidak kalah indahnya lho dengan di tepi pantai. Kalau perlu, nongkrong dari pagi sampe tutup karena siapa tahu bisa bisa ketemu Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, raja Dubai yang konon katanya merupakan regular guest di lounge ini (syukur-syukur diangkat mantu, hehe).
Untuk menikmati semua ini memang nggak murah (it’s Dubai, Habib!), tapi kalo tahan panas kayak tupperware, boleh coba menginap di musim panas (Juni – September). Pertama, seperti hotel-hotel lain di Dubai, tarif kamar diobral habis-habisan, hingga sekitar 30% dari published rate yang biasanya berlaku di musim dingin (Oktober – Februari). Keuntungan lain, karena hotel-hotel biasanya low occupancy di musim panas, kita bisa menikmati fasilitas-fasilitas hotel dengan nyaman, kayak di rumah sendiri deh (tapi tetep bayar lho).
Don’t worry about getting a heatstroke. Suhu udara memang 43 – 45 derajat Celcius di siang hari, tapi di malam hari udara justru cenderung sejuk, bahkan lebih sejuk daripada di pusat kota. Ini tentu tak lepas dari karakter daerah gurun yang perbedaan suhu siang dan malamnya memang ekstrim.
Chichi Knappett
ferry.arbania@gmail.com
Sabtu, 06 Juni 2009
Gambaran dan Konsep tentang Perempuan Ideal
Saya baru saja menyelesaikan bagian pertama dari buku roman Jepang karangan Eiji Yoshikawa, Musashi, yang menceritakan kelahiran Takezo menjadi seorang yang memilih Jalan Samurai sebagai jalan hidupnya. Takezo berganti nama menjadi Miyamoto Musashi.
Ada gambaran kecil yang menyentuh saya. Otsu. Otsu, menurut imajinasi saya adalah gadis dengan perawakan mungil, cantik, lembut dan setia. Ia setia pada janjinya untuk menunggu Takezo setiap hari di jembatan Hanada dan tiga tahun ia habiskan untuk menunggu cintanya. Kasihan Otsu, sebelumnya ia menunggu tunangannya Matahachi pulang dari perang. Akan tetapi tunangannya malah lari dan menikahi seorang janda yang menyelamatkannya dari perang. Singkat cerita, ia jatuh cinta pada Takezo alias Musashi yang masih menjadi penjahat. Dalam sebuah pelarian, sebelum berpisah ia dan Takezo mengucapkan janji setia bahwa ia akan menunggu setiap hari di jembatan Hanada. Menanti Takezo kembali.
*
Saya percaya bahwa konsep setiap orang mengenai prinsip hidupnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Saya sendiri yakin kalau saya telah diracuni oleh buku-buku yang telah saya baca. Otak saya habis dicuci oleh buku-buku yang kebanyakan adalah novel. Saya sudah membaca habis hampir semua karya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dan Sir Arthur Conan Doyle. Tak heran kalau saya jadi begitu melankolis seperti ini. Tanpa sadar saya kagum pada sosok Sir Charles Cartwright (Three Act Tragedy – Agatha Christie) yang mendramatisir kehidupannya. Dan masih banyak tokoh-tokoh novel yang saya kagumi yang begitu mempengaruhi saya: Jupiter Jones (Trio Detektif) dan Hercule Poirot yang sering dicela karena penampilan luarnya yang tidak menarik tapi memiliki otak yang sangat cerdas. Tokoh seperti Robert Langdon (The Da Vinci Code, Angels and Demons – Dan Brown) meskipun juga cerdas agak kurang meracuni saya… mungkin karena Robert Langdon tampan dan menarik. Hahaha…
Mungkin hal yang sama juga terjadi pada konsep saya mengenai gambaran perempuan yang ideal dambaan itu. Saya menilai gambaran saya terlalu artistik dan tidak nyata. Kurang lebih seperti Otsu. Lemah lembut, bermata teduh, kecil mungil, dan setia. Atau kalau seperti yang digambarkan Agatha Christie dalam kisah Hercule Poirot di Tugas-Tugas Hercules (The Labors of Hercules), gadis seperti Otsu adalah tipe-tipe yang tanpa berusaha sedikitpun bisa membuat seorang pria melankolis berusaha menjadi seorang pahlawan baginya. Gambaran yang terlalu romantis. Tidak nyata.
Itulah mungkin salah satu sebab saya pernah mengalami patah hati begitu lama. Sekitar empat tahun. Saya menyadari ternyata saya jatuh cinta pada orang yang nyaris-nyaris memenuhi tokoh perempuan dalam novel-novel yang saya baca. Suaranya yang lemah lembut yang sering saya dengar via telepon menyihir saya. Waktu saya ditolak, saya begitu menikmati sakitnya patah hati. Ada kesempatan untuk melakukan seperti Sir Charles: mendramatisir diri sendiri. Puluhan posting dan puisi dibuat khusus untuk memujanya. Saya baru sadar kalau sebenarnya saya tidak jatuh cinta padanya, tetapi jatuh cinta pada kegilaan diri sendiri untuk melakukan dramatisasi dan menjadi tokoh cerita pada novel yang saya buat sendiri. Peran yang sangat menyenangkan: pria yang sakit karena patah hati.
Masih belum beberapa lama saya kembali ke dunia nyata. Mencoba benar-benar jatuh cinta pada orang saya cintai, bukan karena saya ingin mendramatisir kehidupan lagi. Akan masih sangat panjang perjalanan saya. Saya belajar untuk tidak terlalu kecewa dan patah hati ketika kegagalan demi kegagalan tiba. Kalau saya patah hati, artinya saya kembali melangkah mundur. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Saya akan terus belajar untuk tidak mencari figur seorang Otsu, tetapi sesuatu yang jauh lebih nyata dan konkret.



Love,Sex & Life

Bagi perempuan, risiko terkena serangan jantung karena kebiasaan merokok lebih besar dari laki-laki. Hal ini dibuktikan oleh peneliti asal Norwegia. data ini diambil dari 1.784 pasien jantung di rumah sakit Norwegia.
Dikutip detikhot dari health24, Senin (8/9/2008), dalam penelitian itu dibuktikan bahwa perempuan yang merokok biasanya berisiko mengalami serangan jantung 14 tahun lebih cepat dari perempuan yang tidak merokok.
Berbeda dengan perempuan, laki-laki yang merokok memiliki risiko 8 tahun lebih cepat mengalami serangan jantung dibanding laki-laki yang tidak merokok.
Tak hanya itu, perempuan yang merokok juga mengalami beberapa kerugian lain, seperti mengalami menopause lebih cepat, dan sejumlah kerugian lainnya. Walaupun begitu, baik laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki risiko dan kerugian karena kebiasaan merokoknya.
Jadi tunggu apa lagi? Matikan rokok Anda sekarang!
(kee/yla)
Kerja di Saudi dengan Visa Bebas
Orang Saudi sudah lama menikmati lezatnya hak untuk mengeluarkan visa bebas. Visa bebas ini dapat dibuat atas permintaan secara perorangan oleh warga Saudi, yang sebenarnya adalah hak untuk mengadakan PRT maupun Sopir keluarga. Namun, pada prakteknya, hak visa bebas ini dimanfaatkan untuk diperjualbelikan. Alhasil, kini banyak agen ilegal di bidang jual-beli visa bebas, dan ini telah lazim di Jeddah.
Banyak orang Indonesia membeli visa bebas ini. Untuk visa yang ditujukan untuk seorang laki-laki, harga berkisar 7000 - 8000 Riyal, sedangkan untuk perempuan berkisar 6000 Riyal. (Anggaplah 1 SR = 2450 rupiah). Belum lagi, untuk visa bebas, setiap tahun harus harus menyetor pada kafil / majikan tempat membeli visa ini sekitar 1000 - 2000 SR, tergantung permintaan majikan. Selain itu untuk perpanjangan Iqamah (KTP Saudi) biasanya majikan menarik uang hingga 2000 SR (tiap dua tahunnya). Padahal, untuk harga iqamah dengan kurun waktu dua tahun adalah 1000 SR. Sisanya masuk kantong majikan maupun agen ilegal sebagai "ongkos lelah".
Menggunakan visa bebas menurut pengalaman seseorang eks sopir Jeddah, adalah lebih fleksibel dan punya posisi tawar yang lebih tinggi ketimbang sopir resmi perumahan. "Kita dapat paling tidak 1500 SR sebulan. Sopir biasa paling 1000SR plus makan 200 SR. Selain itu, saya juga bisa ngeyel kalo majikan nyuruh-nyuruh diluar jam yang ditentukan." Kata eks - sopir ini.










Sending your message






























Tidak ada komentar:
Posting Komentar