Ranah Arab : Belajar Dari Dubai
belajar dari Chichi Knappett |
Dubai adalah salah satu anggota Uni Emirat Arab (UAE), persatuan dari tujuh emirat (negara bagian) yang kaya minyak bumi, termasuk diantaranya : Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Ras Al-Khaimah, Sharjah, dan Umm Al-Qaiwain.Dahulu Dubai adalah daerah yang tandus, terjal, dan penuh gurun gersang. Nggak ada indah-indahnya. Tapi lihatlah Dubai saat ini. Perubahan visi dan misi dalam membangun negara yang mandiri, membuat pandangan dunia tertuju pada negara yang terkenal dengan jargon “Tidak ada yang mustahil di Dubai”. Bahkan air laut bisa diubah menjadi air tawar. Indonesia yang katanya banyak tanah surga, tongkat, kayu dan batu menjadi tanaman, akan ketinggalan jauh, bila tak siap berubah.
Kekayaan Dubai pada awalnya identik dengan minyak bumi. Konon, minyak pertama kali ditemukan tahun 1966. Tapi siapa sangka sumber bahan bakar fosil ini diperkirakan habis pada 2010, jadi hanya dalam waktu 44 tahun !. Maka tak heran bila Dubai telah bersiap untuk memiliki alternatif lain dalam memakmurkan rakyatnya.Banyak yang menyangsikan bisnis wisata di dubai, karena musim panasnya yang sangat terik, penduduk Islam yang konservatif dan kekurangan kawasan bersejarah. Namun, Dubai tetap yakin resort seluas 46 hektar di atas pulau buatan yang mereka miliki akan menjadi sumber pendapatan ekonomi apabila sumur minyaknya kering.

Lihatlah Dubai sekarang. Ia tak lagi mengandalkan minyak bumi yang hanya ada 2 tahun lagi. Bisnis property dan tourism sekarang menjadi andalan! Salah satunya adalah Hotel Atlantis The Palm.
Adalah pusat hiburan dubai termegah saat ini yang di bangun menelan biaya sebesar Rp 13 triliun. Hotel yang berdiri di atas pulau buatan berbentuk pohon palem ini mirip tempat wisata di Bahamas, merupakan pusat hiburan keluarga dengan tema lautan. Tempat ini memiliki akuarium terbuka dengan 65,000 jenis ikan, termasuk ikan pari dan dan pelbagai kehidupan laut lain, akuarium untuk lumba-lumba yang dibawa dari Kepulauan Solomon.Cuma sayang seribu kali sayang, hotel ini hanya untuk orang-orang yang kelebihan uang saja alias amat sangat kaya sekali bin tajir - bayangkan saja - suite dengan tiga kamar tidur, tiga kamar mandi lengkap dengan meja makan emas berbentuk daun untuk 18 orang, ditawarkan dengan harga Rp 215 juta satu malam ! Tertarik?
(Ferry Arbania Sumenep, dari berbagai sumber)


Kantong TKW di Luar Negeri
Investasi Sangat Menguntungkan: Dirikan BMT Atau Koperasi di Kantong TKW di Luar Negeri
Kalau ditanya, apakah bisnis yang paling menguntungkan di Arab dan kantong-kantong TKI seperti Hongkong, Malaysia, Jepang, Taiwan atau Korea Misalnya buat orang Indonesia, maka jawabannya mungkin adalah dirikan BMT atau Koperasi yang berfungsi sebagai Simpan Pinjam dan transfer Uang.
Bayangkan, milyaran bahkan trilyunan rupiah dikirim para TKI/W tersebut ke Indonesia, selama ini hanya dinikmati western union dan bank-bank yang pelayanannya sangat menyulitkan. Di western union misalnya, para keluarga yang menerima uang hasil kiriman, masih dipotong (paksa) oleh petugas bank dan kantor pos yang menyalurkannya.
Siapakah yang cocok dengan bisnis ini. Siapa saja dengan kemampun perbankan yang jelas dan mau membangun Indonesia. Khususnya bagi perusahaan travel haji & umrah yang mempunyai minat dengan koperasi, perusahaan syariah atau BMT-BMT Indonesia yang ingin ekspansi ke luar negeri.
Apakah ini bisnis baru??? Tidak sama sekali. Beberapa perusahaan Indonesia telah diam-diam merintisnya. Selain yang sudah eksis seperti western union, moneygram dll. Sepertinya bisnis ini tidak pernah diriset sehingga potensi profit yang luar biasa tidak pernah terekspos. Sebuah perusahaan di bawah Sampurna Group, konglomerat dan penguasa ekonomi Indonesia, telah lama bergerilya di ri Abu Dhabi dengan perwakilan di berbagai negara Arab, kapan giliran anda???
JAKARTA — PT Permodalan BMT berencana melakukan ekspansi pengembangan bisnis keuangan mikro syariah di Hong Kong. Perusahaan ini akan membuka kantor perwakilan di negara tersebut dan menargetkan konsumen tenaga kerja Indonesia di negara itu.
Rencananya, tim beranggotakan lima orang akan berangkat pada Jumat, hari ini. Selama 10 hari di negara tersebut, tim ini akan melakukan pengkajian berbagai kemungkinan pemberian layanan keuangan mikro syariah.
sang penari


the obor (oil lamp) light help me a lot to create this "look like a painting" shot :)
Semalam di Gerbang Matahari
Klik pada wajah orang pada foto untuk memberi mereka tag. |
Ferry Arbania


foto chici sahabat hatiku di Abu Dhabi : "Kemesaraan yang takkan pernah berlalu"Bab Al Shams Desert Resort & Spa ("Gerbang Matahari" dalam bahasa Arab) terletak di tengah gurun pasir, kurang lebih satu jam perjalanan yang lumayan menegangkan dari Dubai. Gimana nggak menegangkan, walaupun penerangan sepanjang jalan sangat baik, namun sejauh mata memandang, di kiri-kanan yang tampak hanya hamparan padang pasir gelap yang mencekam tanpa tanda-tanda kehidupan (tapi tanpa aroma bunga melati ya). Untungnya (atau justru sialnya?), suasana padang pasir ini akan berubah 180 derajat begitu Dubailand, kompleks pusat hiburan terbesar di Timur Tengah (mungkin malah di dunia) dibuka beberapa tahun lagi di dekat area ini.
Walaupun jumlah kamarnya cuma sekitar 100, kompleks hotel ini lumayan luas dan terdiri dari beberapa bangunan low-rise dua lantai yang terhubung satu sama lain dan dikelilingi taman yang cukup asri dan hijau (untuk ukuran daerah gurun pasir, maksudnya!) Bangunan-bangunan itu dibangun ala gaya arsitektur lokal Dubai. Yang pasti bukan arsitektur gedung-gedung pencakar langit Dubai yang nyeleneh, tapi arsitektur rumah-rumah lokal Dubai sebelum demam minyak; persegi dan sederhana dengan warna-warna tanah dan ornamen bermotif tumbuhan. Warna-warna tanah dan kayu yang alami dan sejuk juga mendominasi desain interior kamar yang cenderung sederhana, pokoknya kontras banget deh dengan desain hotel-hotel mewah lainnya kayak Burj Al Arab atau Emirates Palace di Abu Dhabi yang didominasi warna merah, emas, dan bling bling.
Nah, salah satu daya tarik utama resor ini adalah open-air restaurant-nya yang dinamakan Al Hadheerah. Di restoran ini kita dapat menikmati hidangan prasmanan bernuansa Arab, dengan live entertainment seperti Arabic live music dan berbagai tarian Arab. Buat sebagian besar tamu, obviously tari perut (belly dance) yang ditampilkan oleh seorang wanita muda bertubuh montoklah (duh… ngiler…) yang paling ditunggu-tunggu. Oh ya, Uni Emirat Arab (termasuk Dubai) memang negara Islam, tapi tari perut yang erotis justru tidak dilarang, malahan dipromosikan sebagai daya tarik wisata. Padahal kostum penari-penarinya bisa bikin mimisan lho soalnya cuma sepasang bikini dan rok berjumbai, yang pasti jauh lebih “mengundang” daripada goyang Inul maupun Dewi Persik. Oh ya, saat ini banyak juga lho penari perut yang berasal dari luar Timur Tengah, khususnya Eropa Timur dan negara-negara pecahan CIS (Uni Soviet).
Nah, hidangannya sendiri merupakan perpaduan masakan berbagai daerah di kawasan Timur Tengah. Bukan cuma Lebanon dan sekitarnya, yang memang paling populer di kawasan ini, saja yang tersedia. Namun masakan khas lokal/Emirati yang justru jarang banget dijumpai di Dubai juga tersedia. Dari segi kualitas dan variasi pilihan, restoran ini dipuja-puji oleh temen2 g yang Arab, walaupun justru nggak begitu cocok dengan selera g sendiri. Soalnya, masakan Arab kan didominasi daging dan lemak/minyak dengan sangat sedikit (bahkan tanpa) sayuran, mana sweets dan kue-kuenya manis banget lagi untuk lidah orang Indonesia (kata orang Sundah mah, “giung”). Oh ya, buat mereka yang hobi banget naik unta (ada gitu?), bisa juga lho naik unta lagi di restoran ini sementara yang nggak hobi (baca: orang normal) bisa ditato lengannya di konter henna painting.
Gendang gendut, tali kecapi. Kenyang perut, senang hati. Sebelum tidur, mampir dulu dong ke Al Sarab Rooftop Lounge untuk post-dinner drinks atau shisha sambil menikmati pemandangan lepas ke hamparan pasir dan pohon palem di kegelapan malam. Jika sempat menyaksikan matahari tenggelam di sini, kita bakal menyadari bahwa sunset di tengah gurun pasir pun tidak kalah indahnya lho dengan di tepi pantai. Kalau perlu, nongkrong dari pagi sampe tutup karena siapa tahu bisa bisa ketemu Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, raja Dubai yang konon katanya merupakan regular guest di lounge ini (syukur-syukur diangkat mantu, hehe).
Untuk menikmati semua ini memang nggak murah (it’s Dubai, Habib!), tapi kalo tahan panas kayak tupperware, boleh coba menginap di musim panas (Juni – September). Pertama, seperti hotel-hotel lain di Dubai, tarif kamar diobral habis-habisan, hingga sekitar 30% dari published rate yang biasanya berlaku di musim dingin (Oktober – Februari). Keuntungan lain, karena hotel-hotel biasanya low occupancy di musim panas, kita bisa menikmati fasilitas-fasilitas hotel dengan nyaman, kayak di rumah sendiri deh (tapi tetep bayar lho).
Don’t worry about getting a heatstroke. Suhu udara memang 43 – 45 derajat Celcius di siang hari, tapi di malam hari udara justru cenderung sejuk, bahkan lebih sejuk daripada di pusat kota. Ini tentu tak lepas dari karakter daerah gurun yang perbedaan suhu siang dan malamnya memang ekstrim.
Chichi Knappett
ferry.arbania@gmail.com
Kamis, 25 Juni 2009
PEREMPUAN DAN KEMISKINAN
PEREMPUAN DAN KEMISKINAN
Rinie Handayani
Staf Pengajar Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Jakarta
“Social functions should not be based on sex differenceâ€Â
-Marry Wollstonecraft-
Abstrak
Masyarakat sering mengabaikan jamaknya hubungan antara perempuan dan kemiskinan. perempuan juga sering dianggap tidak perlu mandiri secara ekonomi. Konsep laki-laki sebagai pencari nafkah utama dalam hubungan kemasyarakatan telah menjadi sebuah dogma. Kajian ini mempertanyakan fenomena-fenomena di atas dengan menggunakan feminisme sebagai alat bantu analisisnya.
Kata kunci: perempuan, kemiskinan, feminisme
Abstract
The association between women and poverty has been frequently going unnoticed by society. Women are often considered to be unnecessarily self-financed. The idea of men as breadwinners has been accepted as a dogmatic concept. This writing is expected to question such notion by adopting feminist point of view.
Key words: women, poverty, feminist
Memahami Konsep Kemiskinan
Sebagaimana dikemukakan oleh Nickie Charles (2000:125), dalam kajian ilmu feminisme terdapat dua cara dalam memahami makna kemiskinan. Konsep yang pertama memahami kemiskinan sebagai keterbatasan kemampuan untuk memiliki sumber daya material, akibat adanya perbedaan ras, jenis kelamin, dan kelas sosial dalam masyarakat. Konsep yang kedua melihat kemiskinan sebagai ketidakmampuan untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat.
Apabila ditelaah lebih lanjut, kedua konsep di atas saling berkait erat. Seseorang yang dikategorikan masuk dalam kelompok miskin karena ketidakmampuannya dalam memiliki sumber daya materi yang cukup untuk bertahan hidup, tidak mampu berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat tempat dia tinggal. Hal ini disebabkan oleh prioritas individu tersebut untuk bertahan hidup, bukan mengekspresikan diri. Selain itu, jika seseorang tidak memiliki kekuatan ekonomi, akses menuju partisipasi publik untuk mendapat kekuatan sebagai anggota atau bagian dari publik pun tidak dapat diraih.
Penyebab Keterkaitan Perempuan dan Kemiskinan
Wacana dominan yang menyatakan bahwa perempuan bukanlah pencari nafkah dalam sebuah keluarga, atau perempuan tidak perlu mandiri secara ekonomi, telah menjadi penyebab utama keterkaitan perempuan dan kemiskinan. Pola pikir seperti ini begitu kuat mengakar sehingga hadir dalam banyak sisi kehidupan. Salah satu contoh yang tepat adalah dunia pendidikan. Pendidikan telah menjadi bagian dari upaya memelihara wacana ketidakmandirian perempuan secara ekonomi.
Materi pendidikan seringkali menjadi alat untuk menanamkan paham bahwa perempuan tidak perlu mandiri secara ekonomi. Terlalu banyak buku pelajaran, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga menengah ke atas yang menampilkan segregasi peran sosial berdasarkan jenis kelamin. Perempuan seringkali dihadirkan dalam wilayah domestik dan perawatan anak saja, jarang dalam dunia kerja (yang menghasilkan uang), apalagi keduanya. Laki-lakinya dihadirkan sebagai sosok yang hadir dan berkecimpung dalam dunia kerja, tidak terlibat dalam urusan domestik dan pengasuhan anak-anak. Pada akhirnya pola pembagian tugas sosial yang seperti itu biasanya berakhir pada wacana laki-laki saja sebagai pihak yang diharuskan mandiri secara ekonomi. Akibatnya, perempuan menjadi tergantung secara finansial pada laki-laki. Sayangnya, masalah ini lebih sering luput dari perhatian masyarakat.
Materi pendidikan yang mendukung ketakmandirian perempuan secara ekonomi telah secara luas dianggap bukan merupakan masalah yang berarti. Materi pelajaran tersebut malah dianggap sebagai sebuah hal yang jamak dan kodrati. Hal ini juga menghambat kemandirian perempuan. Orang tua yang telah terbiasa dengan rezim materi pelajaran yang seperti itu biasanya akan mengadopsi pola pikir tersebut sebagai sebuah kebenaran. Proses internalisasi makna ke dalam benak dan pola pikir orang tua dapat terjadi tanpa disadari. Akibatnya, terlalu banyak orang tua yang tidak memberi dukungan dan perhatian yang penuh kepada anak-anak perempuan dalam hal pendidikan. Banyak anak perempuan, terutama di daerah pedesaan, yang tidak mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Banyak juga anak perempuan yang akhirnya mengambil pendidikan ‘sekenanya’ saja tanpa memikirkan potensi yang terbaik untuk masa depannya. Anak perempuan dianggap tidak begitu penting mandiri secara finansial. Mereka lebih sering dianggap akan di ‘ambil’ oleh suami dan hidup mereka menjadi tanggungan para suami.
Maria Mies (1986:206) bahkan lebih lanjut mengemukakan bahwa pendidikan sebenarnya merupakan upaya untuk mempersiapkan remaja putri dalam perannya sebagai ibu dan istri di masa datang. Pendapatnya tersebut masih sangat relevan dengan keadaan saat ini ketika para remaja putri sekolah menengah ‘mengikuti’ mata kuliah keterampilan yang biasanya dalam bentuk kegiatan memasak dan menjahit, tidak bebas mengikuti kegiatan keterampilan lainnya yang dikerjakan oleh murid laki-laki. Murid-murid taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang diajari membaca “ibu memasak di dapur dan ayah pergi bekerjaâ€Â. Sekolah pada tahap tertentu telah melegitimasi segregasi peran sosial berdasarkan jenis kelamin.
Wacana dominan yang mendukung ketidakmandirian perempuan secara ekonomi semakin dalam tertanam di benak sebagian besar masyarakat akibat tayangan media massa yang mendukung konstruksi tersebut. Media massa, baik media cetak maupun elektronik, telah menghadirkan beragam program yang lebih sering mendudukan perempuan dalam ranah domestik dan pengasuhan anak. Kalaupun ada program atau tulisan yang menampilkan kisah tentang seorang perempuan yang dipandang sukses, maka format program tersebut biasanya menyertakan informasi mengenai keluarganya (suami dan anak-anak). Dengan dihadirkannya keluarga dalam program atau tulisan, perempuan tidak dapat dipandang sebagai seorang individu mandiri, yang meraih kesuksesannya lewat perjuangan dan kemampuannya. Dalam wacana yang tidak mendukung kemadirian tersebut ini, kesuksesan perempuan masih diukur dari keberhasilannya mengurus suami dan anak-anaknya. Kerancakan bahasa dalam kemasan berita membuat pembaca sering tidak menyadari proses induksi wacana ketakmandirian perempuan sedang berlangsung.
Perlunya Kemandirian Perempuan secara Ekonomi
Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup untuk menikah. Persoalannya adalah bagaimana perempuan harus mampu secara finansial walaupun mereka telah menikah. Hal ini didasarkan pada asumsi logis bahwa mungkin saja seorang perempuan yang telah menikah akan menghadapi kenyataan bahwa pada suatu saat dia harus mampu menghidupi dirinya sendiri, atau membantu menafkahi keluarga. Kematian suami, perceraian, tingginya biaya hidup dan pendidikan, serta pemutusan hubungan kerja yang terjadi pada suami atau suami jatuh sakit adalah contoh-contoh hal-hal yang mungkin saja menimpa seorang perempuan yang telah menikah. Kemandirian perempuan secara finansial akan sangat berguna dalam menghadapi kejadian-kejadian semacam itu.
Ketidakmandirian perempuan dalam sebuah ikatan pernikahan juga memicu kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan yang terjadi dapat dalam bentuk kekerasan ekonomi, psikis hingga fisik. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat pihak yang menghasilkan uang, dalam kasus ini suami, adalah pihak yang memiliki kekuasaan yang lebih dibanding pihak yang tidak menghasilkan uang (istri). Kekuasaan yang lebih dapat digunakan untuk membatasi ruang gerak perempuan, mulai dari jenis pekerjaan domestik apa yang harus dilakukannya hingga jumlah anak. Kekuasaan tidak berimbang membuat istri menjadi sangat tergantung sehingga seringkali istri dalam kelompok ini tidak mampu berbuat banyak dalam menghadapi, misalnya kekerasan fisik yang dilakukan suaminya.
Salah satu perjuangan kelompok feminis adalah adanya sistem pengupahan untuk para istri atas pekerjaan domestik yang telah mereka lakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Jane Freedman (2001:51--52), pekerjaan domestik dan mengurus anak yang tidak dibayar dianggap sebagai produk sistem patriarki dan produksi kapitalis, yang memberi kekuasaan pada laki-laki atas perempuan(istri) melalui pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Namun, konsep pengupahan semacam ini masih menghadapi dilema. Di satu sisi usul ini disambut baik mengingat perkejaan rumah tangga sama beratnya dengan pekerjaan lain dan memerlukan keterampilan juga. Sudah sepatutnya dihargai dan diakui sebagai sebuah profesi. Di sisi lain konsep pengupahan atas pekerjaan domestik yang dilakukan para istri akan mempertegas segregasi wilayah kerja sosial berdasarkan jenis kelamin.
Perempuan pun perlu mandiri secara ekonomi agar tidak menjadi subjek sekaligus objek konsumsi. Selain mengungkapkan hubungan antara pendidikan dan masa depan remaja perempuan sebagai ibu dan istri, Maria Mies (1986:207) juga mengangkat hubungan antara ketidakmandirian perempuan dalam hal keuangan dengan konsumsi domestik. Menurutnya, perempuan kelas menengah memiliki ‘keistimewaan’, yaitu terdomestikasi, terkucil, bergantung pada laki-laki, dibuat lemah secara emosi, dan terikat pada seluruh ideologi yang memberatkan mereka. Seluruh ‘keistimewaan’ ini ditambah dengan kenyataan bahwa mereka, sebagai istri, mau tidak mau menggunakan uang yang diberikan oleh suaminya. Akhirnya, mereka menjadi pelaku utama konsumsi domestik, menjadi sasaran empuk para agen kapitalis nasional dan internasional. Kelompok perempuan seperti inilah yang terus- menerus dijadikan sasaran utama dalam pemasaran, dan sering dijadikan ikon utama dalam periklanan. Tampilan kelompok perempuan seperti ini seringkali menipu. Di balik keceriaan wajah para perempuan tersebut, kebrutalan konsumerisme telah terjadi terhadap mereka.
Kemandirian secara ekonomi memerlukan sistem pengupahan yang adil antara pekerja perempuan dan pekerja laki-laki. Selain mengungkapkan tentang perjuangan kelompok feminis mengenai pengupahan atas pekerjaan domestik yang dilakukan para istri, Jane Freedman (2001:47--48) juga mengangkat masalah upah pekerja perempuan yang biasanya lebih rendah dibanding pekerja laki-laki. Menurutnya pertanyaan tentang mengapa pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan mengapa gaji pekerja perempuan lebih rendah dibanding pekerja laki-laki memiliki jawaban yang saling terkait. Pekerja perempuan dibayar lebih rendah dibanding pekerja laki-laki karena adanya pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Perempuan sering ditempatkan dalam wilayah kerja domestik, sedangkan pria pada wilayah kerja di luar rumah. Akibatnya, banyak perempuan yang menemui kesulitan dalam mengejar karier karena tidak dihargai kemampuannya. Perempuan juga sering menghadapi pelecehan seksual di tempat kerjanya, terutama di wilayah kerja yang didominasi laki-laki, karena tidak memiliki kekuasaan untuk melawan.
Di samping itu, perempuan mendapatkan kesulitan dalam menentukan jenis pekerjaan. Selain karena pendidikan yang tidak memadai (akibat berkuasanya wacana perempuan tidak memerlukan pendidikan yang bagus), perempuan terjebak dalam paradigma ketergantungan finansial pada laki-laki. Sebagai akibatnya, ketika mau dan harus bekerja, perempuan tidak memiliki banyak pilihan lapangan pekerjaan. Banyaknya Pekerja Rumah Tangga (PRT) perempuan adalah salah satu contohnya. Ironisnya pekerjaan semacam ini sering dianggap pekerjaan yang gampang, bukan sebuah profesi sehingga biasanya tidak dibayar mahal, bahkan tidak memenuhi Upah Minimum Regional (UMR). Padahal dalam kenyataannya mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan merawat anak memerlukan keahlian yang memadai. Selain itu, PRT rentan terhadap tindak kekerasan pula akibat tidak adanya pilihan bagi mereka untuk melawan. Hal yang paling disayangkan adalah masyarakat sudah terlanjur mengidentikan PRT sebagai pekerjaan untuk perempuan yang tidak bergengsi dan bergaji rendah walaupun akhir-akhir ini terdapat program di sebuah stasiun televisi swasta mengenai perburuan mencari PRT untuk seorang artis ibu kota. Selain profesi sebagai PRT, buruh pabrik adalah pilihan lain para perempuan yang termasuk dalam kelompok istri kelompok sosial menengah yang secara finansial tergantung pada suami. Profesi ini pun memiliki banyak risiko. Selain kekerasan dan pelecehan, para pekerja perempuan juga rentan terhadap pemutusan hubungan kerja yang sepihak. Hal ini ditunjang kenyataan bahwa kelompok perempuan yang dapat mengisi posisi buruh pabrik rendahan ini banyak sekali tersedia sehingga pihak manajemen pabrik dapat dengan leluasa mengganti mereka. Pertimbangannya adalah mereka perempuan kelas menengah yang bergantung pada suaminya dalam mencari nafkah.
Simpulan
Dengan memepertimbangkan penjelasan di atas, perempuan memang sangat rentan terjebak dalam kemiskinan, baik secara materi (ekonomi) maupun secara partisipasi publik. Sangat disayangkan kenyataan ini sering diabaikan dalam masyarakat karena dianggap sebagai sebuah hal yang jamak dan benar. Tidak gampang untuk memutus mata rantai keterkaitan perempuan dan kemiskinan. Jika Maria Mies menyerukan gerakan feminisme yang lebih mengakomodasi kebutuhan perempuan kelas menengah, di lain pihak feminsme dipandang sebagai sebuah proses yang tidak akan berhenti.
DAFTAR PUSTAKA
Charles, Nickie. Feminism, The State and Social Policy. Bassingstoke: Macmillan. 2000
Freedman, Jane. Feminism. Buckingham: Open University Press. 2001.
Selasa, 09 Juni 2009
Menjadi TKI di dunia Maya
Disaat badai globalisasi datang, di sinilah era persaingan dimana susahnya mencari pekerjaan dan sulitnya mencari uang di negeri sendiri. Pemerintah sudah mulai pusing mendengar rakyat miskin, kriminalitas merajalela khususnya mutilasi, dan belum persoalan politik, ekonomi, dan bencana yang melanda negeri akhir-akhir ini.
Program pengentasan kemiskinan pemerintah sudah banyak dan konsepnya “lumayan” bagus. Namun kenyataan dilapangan selalu “tidak sesuai” dengan konsep yang sudah “lumayan” bagus tadi.
Sulitnya mencari penghidupan di indonesia mendorong para penduduknya untuk menjadi TKW dan TKI di negeri orang, para bahasawan menyebutnya “pahlawan devisa”. Tapi kenyataannya, orang yang disebut pahlawan devisa tadi mengalami dilema dan persoalan lain, ada yang disiksa, diperkosa sampai hamil, di bunuh, dianiaya, dan bahasa TKW kini sudah dimaknai sebagai “pembantu” atau “babu”. TKI pun juga begitu, kalau tidak buruh pabrik ya kerja kasar, kuli bangunan dan tukang angkut barang.
Terkadang pahlawan devisa tadi tidak dilindungi dengan baik oleh pemerintah kita sampai harga diri mereka hilang bersama harga diri bangsa. Lihat saja di cianjur, banyak anak kecil berwajah pakistan, arab, cina, dan negara timur tengah lain, itu karena mereka pulang membawa benih sperma dari majikan mereka. Atau fenomena TKW di hongkong, taiwan dan sekitarnya mereka banyak yang suka dengan aktifitas esek-esek seperti yang ada di youtube.com. Semua ini bukan tipu daya, tapi nyata adanya.
Ada alternatif untuk mencari pekerjaan diluar negeri namun di dunia maya, kerja dilakukan di rumah namun penghasilannya kita dibayar dari luar negeri, pemerintah mungkin dapat memperhatikan alternatif ini, dengan mendukungnya dengan kebijakan dan undang-undang, sampai realisasinya.
Saya suka menyebutnya sebagai “TKI di dunia Maya”, sebagai contoh saya terkoneksi dengan internet lalu mengikuti “google adsense”, ikut “paid review”, “survey online”, “affiliate”, “domain parking”, “Paid Per Click”, “Paid to Read”, dan menjual produk kita baik software maupun barang nyata di web ecommerce. Beberapa bulan kemudian ribuan dolar akan mudah didapatkan.
Bisnis ini tidak perlu biaya besar, cukup terkoneksi internet kita bisa menjalankan semuanya dari rumah, karena kebanyakan bisnis seperti ini tidak modal sama sekali. Skill yang dibutuhkan juga tidak banyak, hanya perlu kenal bahasa inggris pasif, apalagi sudah ada google translate yang dapat menjadi transtool online canggih.
Hanya apakah pemerintah siap mencanangkan internet murah, dan membuat semacam program pelatihan dasar kepada anak bangsa untuk dikenalkan dengan teknologi internet. Tidak perlu sekolah tinggi, orang lulus SD yang bisa baca tulis pun bisa untuk produktif di dunia maya. Jadi apa salahnya, peluang menjadi TKI di Dunia Maya masih banyak.
Semoga persoalan ekonomi bangsa indonesia semakin membaik.
Minggu, 07 Juni 2009
Saiful Jamil Remas Bokong Kiki Fatmala
**************************************************************************
Stop,stop,,,,stop......wah...wah.............masak sampe segitunya sih.........jujura saya pribadi tidak percaya, coz itu kan acara syuting bukan didalam kamar tanpa bidikan kamera...? makanya saking bingungnya aku sampe copy paste tulisan yang nempel di avun.com, judulnya ekstrim banget,
"Saiful Jamil Remas Bokong Kiki Fatmala".Duh......................bantuin aku dong,,karena tanpa sengaja saya dapatkan tulisan yang berjudul "Saiful Jamil Remas Bokong Kiki Fatmala" ini di Avun.com.Saya tidak tau persis kebenarannya. Apakah iini sebuah bentuk kebebasan berekspresi didunia maya, atau ada alasan lain dari terbitnya informasi ini ? bagaimana saran dan komentar pembaca ranah perempuan? buat Mas Sayaiful Jamil mohon klarifikasinya disini. Masalahnya aku Ngefan banget sama mas jamil dan Kiki.Tak tunggu ya klarifikasinya disini.atau ke gmail saya: ferry.arbania@gmail.com
Free Sex No, Nikah Yes
Tidak bisa dibantah, bahwa manusia sesungguhnya adalah makhluk yang tidak bisa dilepaskan dari seks. Karena sejak awal, manusia terlahir ke dunia ini adlah akibat adanya hubungan seks antara seorang laki-laki dengan perempuan. Kecuali Nabi Adam AS dengan Siti Hawa sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan dan Nabi Isa AS yang terlahir dari ibunya Maryam, tanpa suami.
Selain itu, fitrahnya seorang laki-laki dan seorang perempuan saling tertarik satu sama lain, saling ingin mencintai dan dicintai, menyalurkan naluri seks masing-masing dan punya keturunan. Namun, masalah seks antara laki-laki dan perempuan tidaklah menyangkut aspek biologis semata. Seks juga berkaitan dengan aspek psikologis, sosial dan hukum. Sehingga seks juga diatur oleh norma-norma agama dan negara. Seks melibatkan perasaan-perasaan personal yang sangat mendalam, pribadi dan sensitif bagi seseorang, maka seks tidaklah bisa dibicarakan gampang dan murahan di tmpat umum. Sehingga membicarakan seks merupakan peristiwa tabu dan di sebagian masyarakat tidak boleh diungkit-ungkit.Banyak orang memandang seks dengan sikap lucu.
Tapi sepanjang sejarah, banyak pemikir, entah filsuf atau pemuka agama dan ilmuawan, telah berpikir secara serius tentang seks yang mempunyai arti penting bagi diri manusia secara pribadi dan bagi masyarakat.Bagi pemuka (ajaran) agama, masalah seks adalah masalah yang suci dan tidak boleh dikotori dengan tujuan yang sudah ditetapkan agama. Seks antara laki-laki dan perempuan juga tidak boleh dilakukan sembarangan, kecuali melalui perkawinan. Karena hubungan seks akan membawa akibat-akibat lanjutan yang perlu diatur agar kelangsungan dan kesejahteraan umat manusia terjamin. Bila ketentuan tersebut dilanggar, aka membawa bencana bagi pelakunya dan masyarakat.Akibat perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi dan peradaban manusia, hubungan seks laki-laki dan perempuan juga mengalami perubahan. Kehidupan free sexs (seks bebas) kini makin marak di tengah masyarakat. Seperti hubungan seks pra-nikah, kumpul kebo, pelacuran, gigolo, homoseksual, lesbian dan perkosaan.
Perilaku seks bebas ini antara lain mengakibatkan rendahnya derajat manusia, hilangnya kehormatan perempuan, anak lahir anpa ayah, terjadinya aborsi, hancurnya rumah tangga, berjangkit penyakit kelamin, muncul AIDS, mematikan rasa cinta, terputusnya wali nikah dan larangan kawin dengan pezina.Perbuatan seks bebas sepanjang sejarah manusia memang tetap menarik dibicarakan. Karena seks melibatkan orang dari berbagai kalangan, mulai masyarakat awam, umum rakyat jelata, pimpinan masyarakat sampai pejabat negara.
Dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan para pakar kesehatan, seksologi, pendidikan dan pemerhati lainnya, seks bebas terbukti membawa malapetaka bagi manusia. Perilaku seks bebas yang makin memassal dan marak, tidak saja merugikan pelakunya, tapi juga orang lain. Bahkan anak kandung (bayi) sendiri yang baru akan menghirup udara dunia tidak terlepas dari akibatnya. Ini dibuktikan adanya penularan penyakit kelamin dan AIDS pada bayi melalui kehamilan ibunya.
Free Sex
Berbagai perilaku free sex (seks bebas) makin marak di tengah kehidupan masyarakat. Seks bebas tidak saja dilakukan di kalangan orang dewasa, tapi kini sudah merambah di kalangan mahasiswa dan pelajar. Sehingga muncul seks pranikah.Perilaku seks bebas selain dipicu oleh semakin kuatnya arus teknologi informasi, juga semakin permisifnya kehidupan masyarakat. Nilai-nilai akhlak dan agama yang semakin menipis di setiap dada generasi saat ini mendorong perilaku seks bebas. Sebagai insan yang diciptakan Allah dengan naluri syahwat menyalurkan kebutuhan seksual untuk berkembang biak, agama memberikan pintu penyaluran seksual melalui pernikahan.
Pernikahan merupakan pintu penyaluran kebutuhan biologis seksual manusia yang bertanggungjawab, bermoral dan barakah.Di satu sisi free sex menimbulkan sejumlah kerusakan, baik bagi pelakunya maupun masyarakat. Banyak pintu yang bisa dilakukan dari free sex. Sebaliknya, pernikahan merupakan satu sisi lain yang menjadi penyaluran kebutuhan biologis seksual manusia dapat menjamin kelangsungan hidup manusia secara bertanggungjawab, bermoral dan barakah.Satu-satunya penyaluran kebutuhan seks antara laki-laki dengan perempuan yang dibenarkan dan diredhai oleh Allah SWT, zat yang menciptakan manusia itu sendiri, adalah melalui perkawinan. Setiap insan yang menyakini bahwa dirinya diciptakan oleh Allah SWT, Tuhan Pencipta Sekalian Alam ini, mau tidak mau harus pula menyakini bahwa aturan yang diturunkan oleh Allahh SWT adalah demi keselamatan dan keselamatan dan kesejahteraan manusia. Karena sudah pasti Sang Pencipta tahu betul kebutuhan cara terbaik untuk memenuhinya.
Sayangnya, godaan seks bebas makin gencar di sekeliling kita.Makin banyaknya jenis, peluang, kesempatan dan pelaku seks bebas yang mengancam lembaga perkawinan ini, maka atas dasar pemikiran tersebut buku ini ditulis. Dalam buku ini dijelaskan perilaku seks bebas dari lembaga perkawinan sebagai satu-satunya penyaluran naluri seks yang diredhai sesuai fitrah manusia. Sang Pencipta Alam Semesta ini, selalu menjadikan sesuatu berpasangan. Ada baik, ada buruk. Ada cantik, ada yang jelek. Ada panas, ada yang dingin. Ada siang, ada malam. Ada laki-laki dan ada perempuan. Ada kecil, ada besar. Ada pahala, juga ada dosa. Ada amal, juga ada maksiat. Begitu seterusnya.Dalam menyalurkan naluri seks, Allah juga menyediakan dua pilihan. Mau yang halal, penuh barakah, dan menjadi amal saleh, maka lakukan dengan perkawinan yang sah. Sebalinya, mau yang haram, penuh kemaksiatan, bencana dan kehinaan, lakukan dengan seks bebas (free sex).
Apa saja akibat free sex, penulis telah menguraikannya lewat buku Free Sex, Nikah Yes yang diterbitkan penerbit Amzah tahun 2008.Kedua jalan tersebut amat jelas berbeda. Yang satu membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yang satu lagi membawa bencana dan siksaan bagi manusia yang melakukannya, baik di dunia maupun di akhirat.Sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran oleh Sang Pencipta, tentu kita jangan sampai terjerumus ke lembah kehinaan dalam menyalurkan naluri seks. Islam dengan berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. merupakan pedoman yang utama dalam menyalurkan naluri seks.
Dengan amat jelas kedua pedoman tersebut memberikan pegangan bagi umat Islam dalam menyalurkan nafsu syahwat (seks). Islam sama sekali tidak melarang atau menghinakan hubungan seks antara laki-laki dengan perempuan, namun Islam mengatur sedemikian rupa sehingga terwujud ketenteraman dan kebahagiaan manusia itu sendiri.Sayang, masih amat banyak diantara manusia yang tidak peduli dan melecehkan aturan-aturan yang sudah diturunkan melalui Nabi Muhammad Saw. Padahal, aturan tersebut sesungguhnya adalah untuk keselamatan, kesejahteraan dan ketenteraman lahir batin manusia itu sendiri.
Seks Fitrahnya Manusia
Seorang ahli jiwa, Sigmund Freud mengatakan, pda manusia terdapat dua kekuatan, naluri, instink yang kuat mendorong manusia makan, menyediakan dan mencari makanan. Tujuannya agar dapat bekerja, berpikir dan mencipta sesuatu. Sedangkan naluri seks menuntut manusia untuk mencari lawan jenisnya menjadi pasangan hidup. Tujuannya menyalurkan naluri seks yang dimiliki dan mendapatkan keturunan untuk melanjutkan generasi berikutnya.
Allah SWT juga menegaskan, ”Dihiasi hidup manusia itu dengan cinta syahwat (seks) terhadap perempuan.” (Q.S. Al Imran : 14). Tanpa disadari, sejak bayi kita sudah diajarkan seks. Ini terlihat dari sikap orangtua yang membedakan antara bayi lakiplaki dengan perempuan. Orang tua mengajarkan peran yang berbeda terhadap bayi laki-laki dan perempuan. Misalnya dengan pakaian, perkenalan dengan anggota keluarga, teman-teman, bahwa bayinya laki-laki atau perempuan.Meningkat ke usia awal masa kanak-kanak, minat terhadap seks makin besar. Ini dibuktikan dengan keingintahuan mengenai asal usul bayi sangat besar pada anak-anak dan mereka banyak bertanya masalah ini.
Banyak anak memperlihat minat mereka terhadap seks dengan membicarakannya dengan teman-teman bermain kalau tidak ada orang dewasa, dengan melihat gambar-gambar pria dan wanita dewasa dalam pose yang merangsang, bermain seks dengan teman sejenis ataupun lawan jenis dengan masturbasi. Karena banyak orang tua menganggap permainan seks dan masturbasi sebagai perbuatan nakal, bahkan jahat, maka aktifitas seperti itu biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.Memasuki akhir masa kanak-kanan, penggolongan peran seks makin tegas.
Penggolongan peran seks ini berpengaruh pada perilaku dan penilaian diri anak-anak. Dalam penampilan, pakaian dan bahkan gerak-gerik, anak berusaha menciptakan kesan akan kesesuaian dengan peran seks. Pada saat duduk di kelas, anak sudah sadar akan penampilan yang dianggap sesuai dengan peran seks.. Ini diperjelas lagi adanya perbedaan dalam pakaian dan jenis permainan antara laki-laki dan perempuan.
Sabtu, 06 Juni 2009
Gambaran dan Konsep tentang Perempuan Ideal
Saya baru saja menyelesaikan bagian pertama dari buku roman Jepang karangan Eiji Yoshikawa, Musashi, yang menceritakan kelahiran Takezo menjadi seorang yang memilih Jalan Samurai sebagai jalan hidupnya. Takezo berganti nama menjadi Miyamoto Musashi.
Ada gambaran kecil yang menyentuh saya. Otsu. Otsu, menurut imajinasi saya adalah gadis dengan perawakan mungil, cantik, lembut dan setia. Ia setia pada janjinya untuk menunggu Takezo setiap hari di jembatan Hanada dan tiga tahun ia habiskan untuk menunggu cintanya. Kasihan Otsu, sebelumnya ia menunggu tunangannya Matahachi pulang dari perang. Akan tetapi tunangannya malah lari dan menikahi seorang janda yang menyelamatkannya dari perang. Singkat cerita, ia jatuh cinta pada Takezo alias Musashi yang masih menjadi penjahat. Dalam sebuah pelarian, sebelum berpisah ia dan Takezo mengucapkan janji setia bahwa ia akan menunggu setiap hari di jembatan Hanada. Menanti Takezo kembali.
*
Saya percaya bahwa konsep setiap orang mengenai prinsip hidupnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Saya sendiri yakin kalau saya telah diracuni oleh buku-buku yang telah saya baca. Otak saya habis dicuci oleh buku-buku yang kebanyakan adalah novel. Saya sudah membaca habis hampir semua karya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dan Sir Arthur Conan Doyle. Tak heran kalau saya jadi begitu melankolis seperti ini. Tanpa sadar saya kagum pada sosok Sir Charles Cartwright (Three Act Tragedy – Agatha Christie) yang mendramatisir kehidupannya. Dan masih banyak tokoh-tokoh novel yang saya kagumi yang begitu mempengaruhi saya: Jupiter Jones (Trio Detektif) dan Hercule Poirot yang sering dicela karena penampilan luarnya yang tidak menarik tapi memiliki otak yang sangat cerdas. Tokoh seperti Robert Langdon (The Da Vinci Code, Angels and Demons – Dan Brown) meskipun juga cerdas agak kurang meracuni saya… mungkin karena Robert Langdon tampan dan menarik. Hahaha…
Mungkin hal yang sama juga terjadi pada konsep saya mengenai gambaran perempuan yang ideal dambaan itu. Saya menilai gambaran saya terlalu artistik dan tidak nyata. Kurang lebih seperti Otsu. Lemah lembut, bermata teduh, kecil mungil, dan setia. Atau kalau seperti yang digambarkan Agatha Christie dalam kisah Hercule Poirot di Tugas-Tugas Hercules (The Labors of Hercules), gadis seperti Otsu adalah tipe-tipe yang tanpa berusaha sedikitpun bisa membuat seorang pria melankolis berusaha menjadi seorang pahlawan baginya. Gambaran yang terlalu romantis. Tidak nyata.
Itulah mungkin salah satu sebab saya pernah mengalami patah hati begitu lama. Sekitar empat tahun. Saya menyadari ternyata saya jatuh cinta pada orang yang nyaris-nyaris memenuhi tokoh perempuan dalam novel-novel yang saya baca. Suaranya yang lemah lembut yang sering saya dengar via telepon menyihir saya. Waktu saya ditolak, saya begitu menikmati sakitnya patah hati. Ada kesempatan untuk melakukan seperti Sir Charles: mendramatisir diri sendiri. Puluhan posting dan puisi dibuat khusus untuk memujanya. Saya baru sadar kalau sebenarnya saya tidak jatuh cinta padanya, tetapi jatuh cinta pada kegilaan diri sendiri untuk melakukan dramatisasi dan menjadi tokoh cerita pada novel yang saya buat sendiri. Peran yang sangat menyenangkan: pria yang sakit karena patah hati.
Masih belum beberapa lama saya kembali ke dunia nyata. Mencoba benar-benar jatuh cinta pada orang saya cintai, bukan karena saya ingin mendramatisir kehidupan lagi. Akan masih sangat panjang perjalanan saya. Saya belajar untuk tidak terlalu kecewa dan patah hati ketika kegagalan demi kegagalan tiba. Kalau saya patah hati, artinya saya kembali melangkah mundur. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Saya akan terus belajar untuk tidak mencari figur seorang Otsu, tetapi sesuatu yang jauh lebih nyata dan konkret.
Jumat, 05 Juni 2009
Organisasi Muslimah, Haruskah...??
Bila suami Ibu melakukan Poligami



Love,Sex & Life

Bagi perempuan, risiko terkena serangan jantung karena kebiasaan merokok lebih besar dari laki-laki. Hal ini dibuktikan oleh peneliti asal Norwegia. data ini diambil dari 1.784 pasien jantung di rumah sakit Norwegia.
Dikutip detikhot dari health24, Senin (8/9/2008), dalam penelitian itu dibuktikan bahwa perempuan yang merokok biasanya berisiko mengalami serangan jantung 14 tahun lebih cepat dari perempuan yang tidak merokok.
Berbeda dengan perempuan, laki-laki yang merokok memiliki risiko 8 tahun lebih cepat mengalami serangan jantung dibanding laki-laki yang tidak merokok.
Tak hanya itu, perempuan yang merokok juga mengalami beberapa kerugian lain, seperti mengalami menopause lebih cepat, dan sejumlah kerugian lainnya. Walaupun begitu, baik laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki risiko dan kerugian karena kebiasaan merokoknya.
Jadi tunggu apa lagi? Matikan rokok Anda sekarang!
(kee/yla)
Kerja di Saudi dengan Visa Bebas
Orang Saudi sudah lama menikmati lezatnya hak untuk mengeluarkan visa bebas. Visa bebas ini dapat dibuat atas permintaan secara perorangan oleh warga Saudi, yang sebenarnya adalah hak untuk mengadakan PRT maupun Sopir keluarga. Namun, pada prakteknya, hak visa bebas ini dimanfaatkan untuk diperjualbelikan. Alhasil, kini banyak agen ilegal di bidang jual-beli visa bebas, dan ini telah lazim di Jeddah.
Banyak orang Indonesia membeli visa bebas ini. Untuk visa yang ditujukan untuk seorang laki-laki, harga berkisar 7000 - 8000 Riyal, sedangkan untuk perempuan berkisar 6000 Riyal. (Anggaplah 1 SR = 2450 rupiah). Belum lagi, untuk visa bebas, setiap tahun harus harus menyetor pada kafil / majikan tempat membeli visa ini sekitar 1000 - 2000 SR, tergantung permintaan majikan. Selain itu untuk perpanjangan Iqamah (KTP Saudi) biasanya majikan menarik uang hingga 2000 SR (tiap dua tahunnya). Padahal, untuk harga iqamah dengan kurun waktu dua tahun adalah 1000 SR. Sisanya masuk kantong majikan maupun agen ilegal sebagai "ongkos lelah".
Menggunakan visa bebas menurut pengalaman seseorang eks sopir Jeddah, adalah lebih fleksibel dan punya posisi tawar yang lebih tinggi ketimbang sopir resmi perumahan. "Kita dapat paling tidak 1500 SR sebulan. Sopir biasa paling 1000SR plus makan 200 SR. Selain itu, saya juga bisa ngeyel kalo majikan nyuruh-nyuruh diluar jam yang ditentukan." Kata eks - sopir ini.









































Share This Article:
Share to Facebook:
You are redirected to Facebook
Back to Main Menu
Share to Twitter:
Post this to your Twitter:
Back to Main Menu
Share to Twitter:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share to Lintas Berita:
You are redirected to Lintas Berita
Back to Main Menu
Share to Blogdetik:
Post this to your Blogdetik:
Back to Main Menu
Share to Blogdetik:
Message has successfully sent
Back to Main Menu
Back to Main Menu
Share to WordPress:
Post this to your WordPress blog:
Back to Main Menu
Share to WordPress:
Message has successfully sent
Back to Main Menu
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share to Blogger:
Post this to your Blogger blog:
Back to Main Menu
Share to Blogger:
Choose your blog:
Back to Main Menu
Share to Blogger:
Message has successfully sent
Back to Main Menu
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share to Gmail:
Import Your Gmail contacts
Back to Main Menu
Share to Gmail:
Share to your Gmail contacts
Back to Main Menu
Share to Gmail:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share to Yahoo Mail:
Import Your Gmail contacts
Back to Main Menu
Share to Yahoo Mail:
Share to your Yahoo Mail contacts
Back to Main Menu
Share to Yahoo Mail:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share via Email:
Share via Email
Back to Main Menu
Share via EMail:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share via Yahoo Messenger:
Import Your Yahoo Messenger contacts
Back to Main Menu
Share via Yahoo Messenger:
Share to your Yahoo Messenger contacts
Back to Main Menu
Share via Yahoo Messenger:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share via Google Talk:
Import Your Google Talk contacts
Back to Main Menu
Share via Google Talk:
Share to your Google Talk contacts
Back to Main Menu
Share via Google Talk:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu
Share via Live Messenger:
Import Your Live Messenger contacts
Back to Main Menu
Share via Live Messenger:
Share to your Live Messenger contacts
Back to Main Menu
Share via Live Messenger:
Message has successfully sent
Send Again
An Error has Occured
Back to Main Menu